Arti dan makna pidato OBAMA di UI

12 Nov

Mengakhiri kunjungan singkat–kurang dari 24 jam di Jakarta, Presiden Amerika Serikat Barack Obama memberikan kesan mendalam di Universitas Indonesia pada Rabu, 10 November 2010.

Di depan sekitar 7.500 undangan, dan penjagaan super ketat, pidato Obama memukau publik yang hadir.

Obama tiba di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat pada pukul 9.20 pagi. Tanpa upacara, tepuk tangan membahana saat Obama tampil dari sisi panggung, dan berjalan menuju podium. Dia melambaikan tangan, dan tersenyum lebar kepada hadirin yang menunggu sejak pukul 06.00 pagi.

“Selamat pagi, assalamualaikum, salam sejahtera” ujar Obama membuka pidatonya. Tepuk tangan pun bergema panjang karena ucapan salam dalam bahasa Indonesia itu. Obama seakan ingin membunuh jarak antara dia dengan para hadirin, dan juga rakyat Indonesia yang menyaksikan pidato itu dari televisi.

Sejumlah tokoh Indonesia hadir menyimak pidato Obama, antara lain mantan Presiden BJ Habibie, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, Menteri Pendidikan Nasional M Nuh, dan Menteri Pemberdayaan Perempuan Linda Gumelar.

Selain itu tampak pula tokoh pengusaha seperti Hary Tanoesoedibjo, Menteri Tenaga Kerja Muhaimin Iskandar, dan Adhyaksa Dault. Terlihat juga teman-teman Obama saat bersekolah di SD Asisi, Menteng Dalam.

Yang tersaksikan pada orasi hampir setengah jam itu, Obama tampil sebagai seorang yang cukup akrab dengan Indonesia.  “Pulang kampung, nih,” ujar Obama, di tengah gegap gempita tepuk tangan itu. Hadirin pun bersorak lebih panjang

Obama mengatakan, bahwa Indonesia adalah bagian dari dirinya. Dia lalu membagi kenangan masa kecilnya tinggal di Menteng Dalam, Jakarta. Saat itu, ibunya Ann Dunham menikah dengan lelaki Indonesia, Lolo Soetoro.  “Sebagai seorang bocah, saya terdampar di sebuah dunia yang berbeda. Namun, orang-orang di sini membuat saya merasa berada di rumah saya sendiri,” ujar Obama mengenang.

Hampir seperempat bagian pidato itu [lebih detil baca: menceritakan kaitan kehidupan Obama dan Indonesia, serta hal-hal yang diingatnya saat bergaul dengan kehidupan kampung di Jakarta.

Dia kagum dengan keramahan, dan ketulusan warga Jakarta, yang membuat “seorang asing seperti saya jadi seperti tetangga”.  Dia mengingat sejumlah detil, yang selalu membuatnya terkenang akan Indonesia seperti bakso, dan sate. Dengan fasih Obama mendemonstrasikan bagaimana alunan suara memangil tukang sate yang dulu kerap lewat di rumahnya, di Menteng Dalam.

Tiga hal penting

Pada pidato itu, setidaknya Barack Obama menyebutkan tiga hal yang menjadi perhatian selama kunjungannya ke Indonesia. Tiga hal itu adalah pembangunan, demokrasi, dan keyakinan beragama. “Indonesia dan Amerika saling bergantung. Contohnya adalah peningkatan ekonomi di kalangan menengah berarti juga pasar baru bagi ekspor AS,” ujar Obama.

Dalam soal pembangunan, Obama menyebutkan Indonesia dan Amerika memiliki hubungan yang kuat dan bergantung satu sama lain.  Indonesia juga dinilai berperan besar dalam peningkatan ekonomi global.

Menurut Obama, Indonesia sebagai negara anggota G20 memiliki tanggung jawab dalam keseimbangan perekonomian dunia. “Indonesia harus memimpin dalam perekonomian global serta menerapkan transparansi,” ujarnya lagi.

Dalam soal demokrasi, Obama mengaku takjub dengan perubahan yang terjadi selama dia meninggalkan Indonesia. Dia menceritakan kenangannya di tahun 1967 dimana rakyat Indonesia diliputi ketakutan dalam menyuarakan aspirasinya. “Dalam beberapa tahun ini, Indonesia telah menjadi negara demokratis. Hal ini dapat dilihat dari pemilihan presiden dan legislatif serta masyarakat sipil yang dinamis,” ujar Obama.

Indonesia dinilai juga merupakan negara dengan toleransi beragama yang tinggi. Dia mencontohkan masjid dan gereja yang dibangun berdampingan. Sebelum ke Universitas Indonesia, Obama sempat mengunjungi Masjid Istiqlal, sebagai bukti niatnya serius berdialog dengan dunia Muslim.

Tindakan itu tampaknya konsisten dengan pidato yang disampaikannya di Kairo, yang dikenal sebagai “Cairo Speech” saat Obama mengunjungi Mesir beberapa waktu lalu. “Pidato Depok” di Universitas Indonesia, juga menegaskan kembali sikap Obama, “yang tak pernah menjadikan Islam sebagai musuh”.

Tak ada soal Freeport

Sementara itu, para tokoh Indonesia menanggapi secara beragam atas kunjugan dan pidato Obama itu. “Kalau melihat pidato Obama semalam dan di UI (Universitas Indonesia) tadi, ada kesungguhan lebih mendekatkan kedua negara,” kata Pramono Anung di Gedung Parlemen, Rabu 10 November 2010.

Hal yang disayangkan Pramono adalah Obama tak membicarakan hal teknis tentang perusahaan Amerika di Indonesia seperti Freeport, dan Blok Cepu. Menurut Pram, persoalan model kontrak perusahaan itu kerap menjadi perhatian di Indonesia, dan semestinya turut menjadi agenda pembahasan.

“Semestinya ke depan benar-benar equal (setara). Benar-benar memberikan keuntungan pada saat kontrak karya,” ujar mantan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan ini.

Pramono juga mengingatkan, kedatangan Obama jangan hanya sekadar adanya semangat karena Presiden AS ke-44 itu pernah tinggal di Jakarta. “Obama pribadi tak bisa dipisahkan dengan kepentingan Amerika Serikat. Jangan hanya melihat historis pernah tinggal di Indonesia,” ujar Pramono menambahkan.

Sementara itu, Ketua DPR Marzuki Alie mengatakan setiap kunjungan kenegaraan, termasuk oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama tentu membawa kepentingan negaranya.  Lebih jauh, Marzuki menekankan pentingnya pertumbuhan investasi di Indonesia. “Yang penting tidak ada intervensi urusan masing-masing, karena setiap Presiden membawa kepentingan negaranya,” ujarnya.

Sumber daya manusia

Mantan Presiden BJ Habibie menilai pidato Obama lebih banyak menyinggung sumber daya manusia (SDM). Bahkan Habibie menilai Obama juga bicara tentang pentingnya perpaduan iman dan takwa (imtak) dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). “Yang sangat menarik pidato Obama dari awal sampai akhir itu mengenai SDM,” kata Habibie usai pidato Obama di UI. “Dia juga cerita kerjasama imtak dan iptek,” lanjutnya.

Obama, menurut Habibie, menegaskan pentingnya demokrasi, pembangunan, dan agama.  Itu pula, yang dalam versi Habibie, dianggap sebagai contoh penggabungan Imtak dan Iptek. “Imtak kan agama dan budaya. Iptek itu ilmu. Pidato tadi konsentrasi pada pengembangan SDM yang harus ditingkatkan. Itu berfungsi dengan ketiga elemen itu, budaya, agama, dan iptek,” ujar Habibie.

Dalam pidatonya di Universitas Indonesia, Obama menegaskan kontribusi Amerika  atas keberhasilan manusia Indonesia. Untuk itu, dia menginginkan adanya peningkatan kerjasama ilmuwan dan peneliti Amerika dengan Indonesia,  serta kerja sama di wilayah wirausaha.

“Saya pribadi puas karena kita berhasil meningkatkan jumlah pelajar Amerika dan Indonesia yang meneruskan pendidikan di universitas yang ada pada kedua negara,” ujar Obama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: